Unexpected

“Oi, Frost! Kemana!?” tiba-tiba muncul suara Hiro. “Saya lagi bersama Sean. Area nuklir terlalu dekat tadi jadi pakai defense rune.” ujarnya. “Lho? Jadi kamu kenal Sean?” tanyaku. “Ah baka! Jelas satu sekolah!” balas Hiro lagi. “Oh iya, eh wanita tadi…!” teriakku sambil berlari kembali ke arah portal markas. “SELURUH UNIT CORA DIMOHON UNTUK TIDAK MASUK KE CRAG MINE MELALUI PORTAL MARKAS!!!” teriak Steve sang Archon melalui komunikasi global. “RADIASI TERLALU TINGGI, BELLATO MEMODIFIKASI NUKLIR NYA. SEMUA KE CRAG MINE LEWAT HARAM STOCKADE!!!” Seluruh pasukan Cora berlarian menuju portal markas untuk pindah ke Haram Stockade. Bahkan para dewan pun juga demikian. Aku tidak menghiraukan para dewan. Aku tetap memaksakan masuk ke Crag Mine melalui portal markas. Aku langsung berlari ke chip Cora sambil mengeluarkan Isis untuk berjaga-jaga. Setelah berjalan beberapa meter aku melihat sesuatu yang tak terduga. “Wanita itu, dia menahan nuklirnya! Bagaimana bisa!” Sepertinya dia menyadari kehadiranku dia melihat ke arah ku sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah ku. Tiba-tiba keluar seperti sinar putih bergerak cepat ke arah ku. “Apa ini! No!!!” Aku pun terjatuh dan seluruh ruanganku berwarna hitam dan hanya ada tulisan Disconnected From Server.

Aku tak tahu sekarang berada di mana. Suasana terasa dingin. Aku tidak tahu ada di mana. Apakah ini dimensi lain? Aku tak tahu apakah aku sudah mati. Aku tak tahu apakah aku sudah tidak ada di dunia ini. “Uhh, sakit sekali kepala ku.” gumam ku. “Frost! Kamu sudah bangun!?” “Lecia!!!!??? Apa yang kamu lakukan di rumahku!!??” teriak ku kaget. “Aku khawatir soalnya aku dengar server RF tiba-tiba shutdown dan ada beberapa korban yang mengalami kejang-kejang.” ujarnya. “Tapi kenapa kamu yang datang kesini!? Mih!!” teriak ku mencari Mami. “Mami kamu sedang keluar tadi sepertinya ada urusan mendadak. Kamu istirahat saja lah.” ujar Lecia sambil mengambilkan susu hangat untuk ku. “Ya sudah kamu pulang sana.” jawab ku sambil beranjak bangun dari kasur. “Kamu ngusir aku?” balasnya sambil melihat ke arah ku. “Hii..pandangan mengerikan. Bukan, maksud aku..” “Salah aku apa?” jawabnya lagi. “Uh, maksud aku apa kamu gak di cariin?” “Tidak. Orang tua ku juga tau kamu.” Lalu aku bangun dan keluar dari kamar. “Apa salah ku?” ujar ku dalam hati.  Lalu Sean menelponku. “Frost, kamu di rumah? Tidak apa-apa?” tanyanya. “Ya, saya baik-baik saja. Ada ada dengan server RF?” “Sepertinya ada yang menggunakan cheat engine atau semacamnya. Sehingga pada saat nuklir di luncurkan ada semacam perisai atau penahan gitu tetapi tidak jelas lah beritanya.” “Ohh” ya sudah. Terima kasih” lalu aku menutup telpon tanpa bertanya-tanya yang lain lagi. “Lecia, sekarang kamu pulang aja yah.” ujarku. “Ok, tetapi sabtu kamu harus jadi pergi ya.” jawabnya sambil keluar dari kamarku. “Please, jangan urusin itu dulu. Aku masih ada kerjaan lain.” jawabku sambil kembali ke tempat tidur. “Tapi kamu sudah janji!” teriaknya dengan muka seperti ingin menangis. “Ok! Fine! Aku nepatin janji aku tapi sekarang kamu pulang dulu yah.” “Oke, awas liat aja nanti kalo sampai batal.” jawabnya sambil pergi. “Cih, dasar wanita.” gumamku kesal.

Aku pun bangun lalu memasuki ruangan ku bermain. Aku berpikir keras mengenai kejadian tadi. “Sepertinya aku kenal wanita itu, mukanya familiar tapi siapa yah?” Aku pun keluar dari ruang bermain dan kembali ke kamar untuk beristirahat karena kepala yang masih pusing. “Bye Frost!” teriak Lecia dari depan ruang tamu. “INI KENAPA BELOM PULANG DARI TADI!!” teriak ku kesal. Lalu aku kembali ke kamar ku.

War

Aku kembali melepas penatku di rumah dengan bermain RF. Langsung saja aku login ke dalam RF. Tiba-tiba ada yang membisikan aku. “Dimana anda?” “Oh, Hiro! Saya sedang di markas, sebentar lagi mau perang.” jawabku. Markas Cora sangat ramai siang ini dikarenakan akan memasuki jam perang untuk merebut batu mineral di crag mine. Para dewan juga sudah bersiap-siap. “Untuk seluruh pasukan, segera regroup di chip cora!” teriak sang Archon melalui jalur komunikasi global. Steve, Archon Cora yang paling dihormati di Cora. Prestasinya cukup membanggakan karena sampai saat ini hanya dia pemegang rekor tertinggi pembunuh Accretia dan Bellato. Biasanya orang hanya bisa dapat membuat luka sampai luka parah karena apa bila mati harus mengulang dari awal tetapi dengan bantuan orang lain equipment kita bisa terjaga.

Aku pun langsung portal ke dalam crag mine. Sudah terlihat dewan-dewan sedang membuat grup khusus. Setiap bangsa terdapat satu Archon / Race Leader, dua Wakil Archon, dua Attacker Team, dua Defender Team dan dua Supporter Team. Archon dan Wakil Archon bertugas dalam mengaktifkan nuclear, senjata pemusnah massal dan harganya sangat mahal. Attacker Team dan Defender Team bekerja sama dalam formasi penyerangan dan pertahanan. Supporter Team bertugas untuk memberikan support aura khusus.

Steve merupakan Warlock Cora, dia membuat gabungan force dan memanipulasi force potion untuk keluar 2x lipat tetapi mempunyai damage yang besar. Hindarannya juga sangat bagus dan kecepatan larinya tinggi. Menggunakan senjata Golden Saint Relic Staff level 80 dan Dragon Armor Saint level 80. Ritz, wakil pertama archon dan juga seorang Adventurer Cora, pemanah terbaik karena tidak pernah meleset panahannya. Pemegang senjata Golden Saint Relic Bow level 80 dan juga Dragon Armor Saint level 80. Nook, wakil kedua archon dan juga sang Templar Cora. Merupakan pemegang dual weapon terkuat di Cora. Senjatanya Dual Hell Kamason level 75 yang mempunyai opsi banyak dan salah satunya berat senjata yang sangat ringan sehingga mempercepat attack speed. Armornya masih menggunakan Red Dragon Armor seperti aku. Konon yang bermain adalah seorang wanita.

Dua bersaudara, Heinz dan Reinz. Grazier dan Adventurer juga. Armornya sama seperti Steve hanya senjatanya Saint Relic Staff dan Saint Relic Bow level 75. Heinz dapat mengeluarkan dua animus secara bersamaan. Animus nya juga semua berlevel 75. Reinz kadang menggunakan Saint Relic Dual Hitter level 75. Kedua pistol tersebut dapat menembakkan beberapa peluru sekaligus sehingga dapat membuat musuh stun. Dia juga sangat cepat dalam mengisi pelurunya dan membuat kombinasi gerakan. Reinz juga wanita.

Pitt, Defender Team dan Blacknight Cora. Armor nya sama seperti Steve dan juga mempunyai Silver Metal Elf Shield level 70. Hampir tidak bisa di bunuh. Temannya, Tim juga seorang Blacknight tetapi damagenya bisa setara Templar yang mempunyai level 65. Senjatanya yaitu Hell Kamason Level 75 tetapi tipe knife. Shieldnya juga sama seperti Pitt.

Supporter, Pan. Specialist Hybird yang memegang dua senjata bersamaan, Solo Hitter dan Kamason level 70. Dia juga mempunyai sealed animus berlevel 70 dan menggunakan Red Dragon Armor. Temannya, Lith. Merupakan Trapper Cora. Dia dapat memasang trap 4 level bertumpuk bersamaan dan juga memodifikasi trapnya sehingga mempunyai daya ledak yang besar. Dia juga pernah melukai Archon Accretia sampai terluka parah. Entah kenapa dia memakai Golden Armor yang berlevel 73. Senjatanya Saint Relic Bow.

Tiba-tiba ada suara ledakan keras terdengar dari arah chip cora. “Sean, kamu dimana!” tanya ku ke dia lewat jalur komunikasi whisp. “Chip Cora! Banyak Accretia disini!” terdengar suara panik Sean sepertinya sedang menghadang Accretia. “Guild! Langsung tahan chip Cora!” teriak Zerith melalui jalur komunikasi guild. “Zer, kita harus menyusun rencana untuk menyerang accretia dengan taktik ambush.” kata salah satu anggota  guild. ‘Aku tidak ikut campur, sebaiknya aku lari ke arah chip juga.’ Di saat bersamaan muncul segerombolan MAU datang. “AWAS!!!!!!!” teriakku. Seorang mengendarai Gold MAU sambil menembakan roket. “Paimon! Cover that girl!” Langsung saja Paimon ku tersummon dan langsung menahan peluru tersebut. “Are you okay?” tanyaku. “Thanks.” Jawabnya lalu bangkit berdiri. ‘Trapper huh?’ gumamku. Aku pun langsung mengsummon Isis. “Isis, Attack that MAU!” Langsung saja ISIS ku menyerang MAU tersebut. Terlihat ketahanan MAU tersebut menurun banyak. ‘Shit! What is this!?’ Tiba-tiba ada komunikasi global muncul. “AWAS BELLATO MENGELUARKAN NUKLIR NYA!” teriak sang Archon. “Sial! Di ikat begini tidak bisa bergerak!” Tiba-tiba tubuhku bersinar terang dan samar-samar menghilang. Terlihat ada seorang wanita cora muncul di hadapanku. Dia tersenyum kepada ku dan langsung tubuhku hilang dari area tersebut. ‘Siapa tadi! Kenapa tubuhku di portal ke markas!’

Weird

“Froster, bangun! Sudah pagi.” Aku bangun dan sambil mengucek-ngucek mata aku pun melihat seorang wanita masuk ke dalam kamarku. “Sayang, sudah pagi. Ini kan hari pertama kamu kerja di kantor baru kamu.” “Iya-iya. Aku bangun.” Lalu dia mengecup pipi kananku. “Sudah aku siapkan air panas. Aku tunggu kamu di dapur ya.” “Iya.Uhh.” Lalu aku beranjak bangun dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi aku pun berpakaian dan langsung menuju ruang makan. “Say, masak apa hari ini?” Tanya ku sambil membetulkan dasi. “Aku..aku masak…ah.” Tiba-tiba dia terjatuh. “Lecia! Kamu kenapa Lecia!? Lecia!!” Teriak ku sambil terus mencoba menyadarkannya. “Lecia!!!”

“HAAAAAAAAAAAAAAH!! Mimpi apa aku ini? Aneh sekali mimpi ku.” Aku terbangun sambil memegangi kepalaku. ‘Sakit sekali rasanya. Aneh kenapa bisa mimpi seperti itu?’ Aku pun langsung beranjak ke kamar mandi agar tidak telat ke sekolah. “Mam, aku berangkat dulu ya!” teriak ku sambil berlari ke depan pintu rumah. “Hati-hati! Buru-buru sekali kamu.” Balas Mami ku. Seperti biasa aku ke sekolah membawa motor. Aku sudah nyerah apabila menggunakan mobil karena jalanan yang macet parah. Dengan motor bisa menghemat banyak waktu dan aku bisa lebih bebas.

SMA Budi Mulia, berbeda seperti dahulu. Sekarang sekolah ini lebih ketat. Walau sekolah ini sebenarnya menggunakan teknologi canggih tetapi tetap ramah lingkungan karena sudah menggunakan pohon panel surya. Pohon yang daunnya menggunakan panel surya elastis. Terdapat dua gedung, yang satu gedung khusus program jurusan IPA dan satunya lagi untuk program jurusan IPS. Khusus kelas 1 SMA karena terdapat 7 kelas maka di bagi 2. 4 Kelas di gedung IPA dan sisanya di gedung IPS. Aku berada di kelas X-6 di gedung IPS. “Selamat pagi Froster.” Sapa Shin dan dia ikut berjalan di sampingku ke arah kelas. “Pagi Shin. Ulangan Matematika kan hari ini?” Tanyaku. “Iya, udah belajar?” “Belom.” Aku pun langsung menuju bangku paling belakang. Shin duduk di depanku dan sampingnya, Karen. Wanita yang lumayan pintar di kelas dan dibanggakan. Tiba-tiba ada orang yang duduk di sebelahku. “Selamat pagi Frost!” Sapanya. “Ehh…Lecia! Kamu mustinya duduk di depan. Kenapa pindah ke sini?” Tanyaku. “Ehem. Sepertinya hamba harus keluar dari percakapan ini. Permisi” ujar Shin sambil berbicara dengan gaya bangsawan. “Shin!! Liat kau nanti di RF! Akan kumakan kau.” “If you can.” Balas Shin lalu dia membalikan badannya ke depan. “Ok, Lecia balik ke depan. Nanti dimarahin sama guru.”

Bel pelajaran pun berbunyi tanda pelajaran sudah di mulai. Guru Matematika datang ke dalam kelas sambil membawa beberapa lembar soal. “Lecia? Kenapa kamu di belakang sana? Bukannya kamu duduk di depan?” Tanya guru tersebut. “Pak, badan saya lemas. Di depan kan langsung kena kipas pak jadi saya pindah ke belakang sini.” Jawabnya sambil berakting lemas. ‘Hah? Ini anak bohongnya kelewatan.’ Gumamku dalam hati sambil kesal melihat ke arah dia. Rasanya pengen aku usir saja. “Aduh bapak ketinggalan berita ya. Froster kan suka pak sama Lecia.” Teriak Shin. “Shin!! Ah!” gerutuku sambil mengepalkan tangan. Sontak saja satu kelas pada berteriak dan ketawa sambil melihat ke arahku. “Hahaha. Sudah-sudah mau ulangan ini ayo masukan buku kalian.” Sehabis ulangan matematika aku pun keluar dari kelas. Ya seperti biasa, apabila selesai ulangan duluan boleh meninggalkan kelas. Aku duduk di depan kelas. “Yo, Froster.” Suara seseorang dari ujung koridor sambil melambaikan tangan. “Siapa yah namanya? Kok kenal nama saya?” Tanyaku bingung sambil berjabat tangan. “Kenalkan, Hiro.” Jawab dia sambil tersenyum. “RFO Player?” Tanyaku sekali lagi. “Tentu saja Mr. Dragon Armor.” Jawab dia lagi. “Maaf yah soal kemarin, saya cuman ingin mengetes anda hahaha.” “Tidak apa-apa.” Jawabku. Lalu dia berpamitan dengan ku. “Sepertinya sudah selesai semua ulangan. Saya kembali ke kelas ya. Kalau ingin menemui saya datang saja ke gedung IPA di kelas X-2.” Aku hanya bisa terdiam saja.

Aku pulang sekolah jam dua siang. Walau begitu ada juga yang pulang jam tiga bahkan jam empat karena ada kegiatan diluar jam pelajaran. Aku merasa ada yang sedang melihat ke arahku. Aku pun langsung menoleh ke arah kanan. Terlihat ada wanita berdiri di dekat taman sambil memandangi ku. Aku hanya melihat sebentar lalu aku berjalan kembali ke gerbang sekolah. ‘Cakep juga’ gumamku dalam hati. Siapakah wanita itu, apakah dia anak baru?

Pilihan 2

Malam hari pun tiba. Aku kembali masuk ke ruangan khusus ku. Walaupun besok ada ulangan tetapi aku tak menghiraukannya. ‘Ulangan Matematika? Cih. Tidak perlu lihat soalnya pun aku bisa mendapatkan nilai 100.’ Aku login ke dalam dunia RF ku. “Frost, lagi ada dimana?” terdengar suara seorang pria di ruanganku. “Markas, bosen saya. Tidak ada aktifitas khusus dari Dewan maupun Race Manager. Kamu lagi dimana Shin?” “Di belakangmu.” Tiba-tiba dia memukul bahuku dari belakang. “Kau! Membuatku kaget saja. Untung saja force ku tadi tidak keluar.” Teriak ku sambil mengeluarkan staff ku. “Hahaha…hahaha. Sorry-sorry. Ayo kita patroli di Tanah Elf.” Ujarnya sambil berjalan ke portal markas. “Ya, saya segera menyusul kesana.” Aku pun menghampiri salah satu NPC Sundries. NPC di sini bukan NPC biasa. Bisa di ajak bicara, bahkan bisa menawar harga potion atau senjata. Biasanya ada harga khusus bagi orang tertentu. “Berapa totalnya?” tanyaku. “Semuanya 25 juta disena.” Jawab NPC tersebut. Aku langsung mengambil sebuah alat kecil dari tas ku. Alat tersebut bekerja seperti ATM. Aku membayarnya lewat alat tersebut. “Sudah masuk uangnya. Terima Kasih.” “Sama-sama.” Lalu aku ke portal markas dan memilih tempat ke Sette.

Sette adalah sebuah gurun sebenarnya, tetapi karena tanahnya amblas maka terlihat bangunan tua. Menurut sejarah, bangunan tersebut di bangun oleh bangsa pendahulu tetapi mengalami kehancuran. Sekarang hanya diisi oleh Turncoat dari masing-masing bangsa. Aku pun berjalan lurus terus sehingga menuju Windy Lowland lalu keluar melewati Sette Ruins dan sampai di Nadir Plain. Portal Elven tidak terlihat, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaan portalnya dan juga untuk ke sana diperlukan sebuah artifak khusus. “Akhirnya sampai juga di Tanah Elven. Sudah lama sekali saya tidak bermain ke sini. Shin, kamu dimana?” tanya ku sambil berjalan menuruni tangga di Elven. “Shin? Oi jangan becanda. Jawab oi.” Tanya ku lagi. Tidak ada jawaban dari Shin dan tiba-tiba semuanya gelap. ‘Ada apa ini! Kepala ku sakit! Argh!’ Tiba-tiba aku pun terputus dari RF dan aku pun jatuh pingsan.

‘Dimana aku? Kenapa tubuhku terasa berat.’ Aku pun berusaha untuk bangkit. Suasana sungguh dingin. Sekelilingku tidak ada apa-apa dan semuanya berwarna putih. Aku pun hanya bisa melihat sekeliling. Terdengar suara langkah kaki. “Siapa itu!” teriak ku. Tidak ada balasan dan langkah kaki itu terdengar mankin keras. Tiba-tiba terlihat sebuah bayangan orang dan juga dia memakai baju jirah putih tetapi dikelilingi aura gelap. “Siapa kamu!” teriak ku ke orang tersebut tetapi tidak di balas dan dia semankin mendekat. Tiba-tiba dia mengeluarkan senjata seperti sebuah pedang panjang. “Matilah!!”

“HAAAAAAAAAAAAAAAAH!” tiba-tiba aku terbangun. ‘Mimpi apa tadi! Kenapa aku mau di bunuh!’ gumam ku. ‘Sejak kapan aku ada di kamar? Sepertinya aku tadi sedang bermain.’ “Kamu tadi tertidur. Jadi Mami pindahin ke kamar kamu.” “Lho? Bukannya aku tadi sedang bermain.” Tanya ku bingung. “Iya tetapi kamu tadi tertidur, mungkin kamu butuh istirahat. Main melulu sih.” Lalu Mami ku keluar dari kamar ku. Aku pun langsung mengambil HP ku di samping tempat tidur. ‘Sudah jam 9 malam. Ada SMS sepertinya.’ Aku pun mengecek folder SMS ku. ‘Jadi kamu sabtu mau jalan sama aku?’ tanya Lecia dalam SMS tersebut. ‘Ini anak! Tidak!!!!’ gumamku kesal dalam hati. ‘Iya-iya. Aku jalan sama kamu sabtu nanti.’ Balas ku dan belom ada 30 detik sudah di balas SMS ku tadi. ‘Asik! Makasih yah!’  balas Lecia. ‘Yah, mungkin aku harus bergaul.’ Dan aku pun langsung tidur.

 

Pilihan

“Yeah, this is not normal armor.” ujar orang jepang tersebut. “Yeah i know, Superior Armor Strong Intense Black Shamans. Prepare yourself! Hell Bless!” Seketika tubuh sang cora tersebut tertutup aura-aura gelap dan darah nya pun berkurang secara perlahan. “Hahaha, only that?” Ketawa Cora teesebut meremehkan force gelapku. “Yes, Modified Hell Bless.” ujarku sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya. “What the, hey wait! Ok ok i give up, what the hell with this hell bless.” Darahnya pun berkurang banyak karena efek dari force yang ku berikan. Hell Bless ku berbeda karena sudah di modifikasi walau memakan force potion banyak tetapi efeknya sangat ampuh untuk melumpuhkan musuh. “I WILL KILL YOU!!! BLAZING LANCE!!!” Tiba-tiba serangan mendadak datang dari arah belakang dan membentuk seperti tombak yang berkerucut panjang. “Paimon, cover me!” Paimon muncul di belakang ku dan menghilangkan efek dari force tersebut. “What!!! Damn!” ujar dia lagi kesal dan akhirnya dia pun menyerah. “Modified Paimon, you can’t beat me. I have all my guardian here.” Lalu aku pun berlalu masuk ke dalam Haram Stockade, orang jepang itu ternyata mengikuti aku dan aku pun langsung berbalik badan. “What do you want? Want to fight with me again?” “Tidak-tidak, aku minta maaf, mari berteman.”

Aku pun kaget, ternyata orang jepang ini bisa berbahasa Indonesia. “Siapa namamu?” “Saya Hiro.” Ujarnya sambil membungkukan badannya. “Saya Froster, senang berkenalan dengan kamu.” Setelah berapa lama tiba-tiba dia terputus dari server. ‘Ah, mungkin dia offline, offline juga ah.’ Lalu aku keluar dari permainan RF dan kepalaku terasa sakit sekali dan tubuhku berasa lelah. Aku pun keluar dari ruangan khusus bermainku. Sudah menjadi efek sehari-hari apabila bermain RF. HP ku bergetar, ku melihat ada SMS masuk dan ternyata SMS ini dari temanku. Lecia. ‘Froster, kamu lagi ngapain?’ Yah, mungkin dari beberapa pesan yang masuk hanya dia yang SMS bertanya aktifitas aku, semua teman-temanku yang lain SMS hanya untuk bertanya pelajaran atau PR besok bahkan bertanya jawaban buat PR. Sayang, aku tidak menaruh hati padanya saat ini. Aku pun membalas saja. ‘Aku cuman lagi tidur-tiduran. Kenapa?’

Aku pun beranjak kedapur untuk mengambil air minum, udara di Jakarta semankin panas saja bahkan AC di kamarku pun tidak dapat mengimbangi panasnya Jakarta padahal sudah ku set sampai suhu 16 derajat celcius. ‘Oh, nggak apa-apa. Sabtu kamu ada acara tidak?’ Sudah bisa di tebak pasti dia mengajak jalan aku minggu ini, wanita selalu saja merepotkan. ‘Maaf, aku nggak bisa, aku mau main RF’ Lalu dia menelpon ku, aku merasakan aura tidak enak pada saat dia menelpon. “Halo, Frost? Kamu yakin nggak bisa sabtu ini. Pasti main RF.” “Eh, bukan RF. Ya sudah aku gak ada acara hari sabtu.” “Yay, nanti aku telpon kamu lagi. Nanti aku kasih tau kemana perginya. Ok? Bye.” Telpon di tutup oleh dia, seakan-akan sengaja agar aku tidak bertanya kepadanya. Baru saja telepon ku tutup, muncul pesan IM dari komputer ku yang langsung disambungkan dengan HP ku. ‘Frost, saya butuh bantuan kamu sabtu ini, tolong online. Thanks’ Aku cuman bisa duduk termenung, bingung apa yang harus aku pilih. Apakah aku harus jalan sama Lecia atau bermain RF?